Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berjarak 13 Km dari Tugu Muda Semarang, Wisata Goa Kreo Sajikan Pesona Waduk Jatibarang dan Ratusan Monyet

Tentang Wisata Goa Kreo Semarang: Temukan keindahan alam di tengah Waduk Jatibarang, Semarang. Jelajahi goa alami dengan akses melalui anak tangga yang menakjubkan.

Penampakan jembatan akses menuju objek wisata Goa Kreo Semarang. (Google Bisnisku/Didik Riyanto)

BABADSEMARANG.COM - Wisata Goa Kreo adalah salah satu destinasi terbaru yang patut dikunjungi di Semarang pada tahun 2023.

Lokasi ini terletak di perbukitan Gunung Kerincing, tepatnya di Kelurahan Kandri, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Wisata ini mempesona karena berada di tengah-tengah Waduk Jatibarang, sebuah bendungan yang mengendalikan Kali Kreo di sebelah selatan Kota Semarang.

Salah satu daya tarik utama di tempat ini adalah perjalanan melalui sejumlah anak tangga yang mengelilingi Waduk Jatibarang. 

Anak tangga ini menjadi akses menuju Goa Kreo. 

Untuk mencapai Wisata Goa Kreo, Anda dapat mengemudi sekitar 13 km ke arah selatan dari Bundaran Tugu Muda di Kota Semarang.

Di dalam kawasan Goa Kreo, Anda akan disambut oleh pohon-pohon rindang yang menyejukkan hati para pengunjung. 

Wisata Goa Kreo buka setiap hari mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. 

Harga tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp5.000 saja, dan tiket ini sudah termasuk biaya parkir kendaraan sepeda motor.

Ratusan Monyet di Goa Kreo dan Cerita Legenda

Satu hal yang unik dari objek wisata Goa Kreo adalah keberadaan ratusan monyet. (Google Bisnisku/Dzulfikar Budi Andreanto)

Salah satu hal yang unik di Wisata Goa Kreo adalah keberadaan ratusan monyet jenis Macaca fascicularis, atau yang lebih dikenal sebagai monyet ekor panjang. 

Monyet-monyet ini menjadi legenda di balik nama Goa Kreo. 

Pengunjung dapat berinteraksi dengan monyet-monyet ini, seperti memberi makan atau berfoto bersama mereka.

Menurut T. Wedy Utomo dalam bukunya "Gua Kreo", Goa Kreo memiliki hubungan erat dengan kisah Sunan Kalijaga dalam menemukan pohon jati raksasa di Desa Sodong. Pohon jati tersebut nantinya  digunakan untuk membuat soko guru masjid Demak.

Kisah tentang barisan kera atau monyet yang membantu Sunan Kalijaga dalam memindahkan pohon jati raksasa ke Demak memang telah mengakar kuat dalam sejarah dan budaya masyarakat Semarang. Peristiwa itu menjadi bukti akan keajaiban dan keberkahan yang terkandung dalam ajaran Sunan Kalijaga.

Malam itu, suara gemuruh menandai kejatuhan pohon jati yang amat besar, yang kemudian dijadikan soko guru masjid Demak. Sunan Bonang, dalam keheningan tirakatnya di Demak, mendengar gemuruh itu. Itu adalah isyarat bahwa sesuatu yang besar dan penting telah terjadi.

Dalam perjalanan menuju Demak, Sunan Kalijaga dan para pengikutnya mengalami kesulitan ketika harus melintasi sungai besar. Di saat itulah, empat kera dengan warna bulu yang berbeda - merah, putih, hitam, dan kuning - muncul di hadapannya. Mereka adalah makhluk yang terpilih untuk membantu mengatasi rintangan tersebut.

Dengan pertolongan dan kekuatan kera-kera tersebut, pohon raksasa berhasil melintasi sungai. Keempat kera itu kemudian membawa rombongan ke sebuah gua di mana mereka beristirahat. Gua itu merupakan tempat tinggal para kera tersebut.

Di situlah, mereka meminta restu kepada Sunan Kalijaga untuk tinggal di gua tersebut hingga anak cucu mereka. Sunan Kalijaga dengan tulus hati mengizinkan, asalkan mereka tidak mengganggu kehidupan penduduk sekitar.

Kisah ini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Kota Semarang, sebagai bukti keajaiban dan pertolongan dari alam semesta, serta sebagai pengingat akan kebijaksanaan Sunan Kalijaga dalam memperlakukan semua makhluk ciptaan Tuhan dengan penuh rasa kasih sayang.(*)

Posting Komentar untuk "Berjarak 13 Km dari Tugu Muda Semarang, Wisata Goa Kreo Sajikan Pesona Waduk Jatibarang dan Ratusan Monyet"